02 Mei 2012

Steppin' the Retail !




hello there, blogwalker :)


I wanna tell ya something...
finally, I've got my first job, almost two month ago actually. and guess what, it's not a bad job at all, at least for unexperience-fresh-graduated like me. it's quite fun but yet lot of pressure, definitely!

yep, I've grab the opportunity to be a supervisor in one of biggest retail in jawa barat. who don't know YOGYA dept. store?
and it's totally new experience, far from education background... well, not too far, actually. I placed in fresh product department, which mean, I should supervise all about fresh product (mostly agricultural product like fruits and veggies. and the rest is like meat, fish, and bakery), not only maintain & supervise the product, but also people.

talk about salary. I have my own consideration.
the range of salary is on "middle" level. well, it's enough for fresh graduate, and the most important thing, I placed in my hometown. it won't cost any accommodation, little for consumption, and few for transportation, which mean I can save a sum of money, at least a half. :D

but then, it's a big responsibility.
if u think this is a comfort job, think twice.
and, what is the responsibility?
it's looks simple, just make sure the goods (fresh product) is on excellent quality (no flaws & no stinky), looking good & always clean on sale display, have enough stock on store room or cold room (not less, not over, just enough!), maintaining & leading people (esp. in my department, like service crew, and sales promotion girl/boy) motivate & give them daily briefing, calculate a monthly target & growth then arrange a plan how to reach them, and arrange the in-store promo (like big sale, or discount in own department).

but then, it's getting difficult enough on execute them.
the hardest part (for me) is estimating what kind & how much the products you should order. the store will suffer in "loss sell" if there's not enough goods to sell. or the store will suffer "margin minus" if the stocks is too much, because the products (esp. fresh products) is fragile & can be damaged or rotted, then, it can't be placed on display & should be destroyed.
and the second, is maintain the people, esp. for me, the most quiet & anti-social person -__-
I should make a deal with the crew on my department if they broke the rule, or I should find a way how to ask them in effective & efficient ways.

compare to work in plantation?
not too different, they both is "field" job, I mean, not just work in back of table or computer and sit there all day along, you need mobile. but in this case, retail is indoor field job, while plantation is outdoor. it has same 'tiring level", we should be ready for shifting work, extra work in holiday (such as ied or xmas), and no off in sunday.

it's not a monotonous job,
but honestly, I've been trapped in daily routine. and getting bored already.
I have cooperative work team, but my "top management" is too "iron fist", strict in rule, never satisfied & never apreciate the good work... yeah, another pressure. this work world is mean.

it seems would be hard for the first time...
I should be "ready to use" even I still on job training. it's quite hard pressure to me.
but well, I know I can handle it... time will tell ;)

(sorry for my bad english, I just don't want this article too "open" and "readable" hehe.. I'm sure you know what I mean)
cheers.

09 Maret 2012

Negeri 5 Menara The Movie: Pesantren, Menara, dan Semangat "Man Jadda Wa Jada"

time for review...

one of my fave novel goes to movie, Negeri 5 Menara...
udah nunggu2 ni film setelah selesai baca bukunya setahun lalu...
and finally barusan nonton.... like always... sendirian :D
yup, saya selalu bela2in ke theater walau harus sendirian untuk melihat film2 yg bisa dikategorikan sbg film keren & bagus, baik produk lokal atau impor...
mengapresiasi karya seni ga harus rame2, sendirian juga "rame" koq... :)

Overall film ini saya kasi nilai B+
Film ini dimulai dengan latar belakang minang sekitar tahun 80an. logat minangkabau yg kental, dan backsound music 'folk'. sedangkan latarbelakang utamanya adalah kehidupan sehari-hari disebuah pesantren dengan segala dinamika yg ada. masih berfikir kalo pesantren itu kuno, jadul, terbelakang? tunggu dulu, tonton deh film ini :)

Kenapa "menara"?
mungkin beberapa orang yg udah nonton masih belum 'ngeh'. "lho apa hubungannya pesantren, man jadda wa jada, dgn 'negeri 5 menara'?"
film ini bercerita ttg Alif dan tmn2nya, yg suka 'nongkrong' dibawah menara mesjid (sehingga mereka dijuluki 'sahibul menara'/pemilik menara) memiliki berbagai macam dinamika hidup di pesantren, yang bermimpi untuk mengunjungi kota/negara impiannya masing2.
dengan semangat man jadda wa jada mereka sepakat suatu hari nanti mereka akan bertemu lagi dgn membawa foto bukti bahwa dia telah pergi ke kota/negara yg diimpikannya" dgn berpose di menara yg menjadi ciri khas kota/negara itu.
5 menara tsb jika saya tebak adalah:
- washington monument sbg representatif benua amerika yg menjadi mimpi alif,
- menara bigben sbg representatif benua eropa yg menjadi mimpi raja,
- menara universitas al-azhar sbg representatif benua afrika/mesir yg menjadi mimpi atang,
- menara masjidil haram sbg representatif benua asia/arab yg merupakan mimpi Baso utk jd penghafal quran, dan
- monas sbg representatif indonesia dmn said dan dulmajid ingin membangun dan meneruskan mimpinya di negara tercinta.

Storyline & novel-to-film correlation
agak ga fair juga kalo kita menilai baik atau buruknya film berdasarkan dgn sama-tidaknya dgn novel. karena ga mungkin bgt semua isi buku yg beratus2 halaman itu divisualisasikan kedalam film dgn hanya berdurasi beberapa ratus menit. dan toh, tidak bisa juga menyamaratakan cara penyampaian suatu "value/nilai" dari dua media yg berbeda.
ada beberapa scene yg "miss", dan beberapa berbeda dgn novel. misalnya: di film, alif tidak berhasil berfoto dgn sarah, namun di novel, sebaliknya. tapi yaa itu bukan hal krusial, melihat itu bukan "main value" yg mau disampaikan difilm ini.
"main value" yg ditekankan difilm ini adalah semangat "Man Jadda wa jada", barang siapa bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil. dan film ini menurut saya cukup sukses merefleksikan semangat itu.
scene favorit adalah ketika ustadz Salman datang kekelas membawa pedang karatan dan sepotong kayu yg tebal, lalu dia mulai memotong kayu itu dgn pedang yg berkarat. para santri cuma bisa bengong melihatnya, tp ustadz salman terus mati2an memukul2 kayu tersebut hingga terbelah. lalu dia berkata, "keberhasilan itu bukan soal 'dengan apa' kita melakukannya tapi 'bagaimana' kita melakukannya". memotong kayu dgn pedang berkarat itu terlihat sulit, tapi bukan berarti mustahil, yg penting kita lakukan dengan sungguh2. itulah semangat "Man jadda wa jada".
minusnya, beberapa scene memperlihatkan dialogue yg 'sedikit' monoton, sehingga terjadi beberapa "yawn moment" (ketika perhatian penonton teralih dr film, tdk menyimak dan menguap) dgn "bobot" kata2 yg 'rumit'. melihat, konsumsi film ini semua umur, alangkah lebih baik pakai bahasa yg mudah :)
juga ending film ini yg saya rasa mungkin dapat membuat penonton yg belum baca novelnya perlu sedikit "loading".

Setting & music
Film ini sukses memberikan saya gambaran tentang kondisi pesantren yg tertib, disiplin, dan dinamis. juga setting waktu yg berlatar taun 80-90an, film ini dengan detil memberi gambaran kondisi pada era tersebut seperti gaya berpakaian, kondisi properties/perabotan, atau juga mobil yg berlalu lalang bahkan waktu setting tempat berada di tengah kota bandung di sekitaran gedung asia-afrika dan gedung sate.
minusnya, waktu pementasan seni dipesantren, yaitu ketika sebelum teman2 alif tampil, digambarkan beberapa org melakukan pementasan 'modern dance/break dance' dgn konsep musik dan pencahayaan "hi-tech".. menurut saya itu terlalu "modern", that's so 2000's. juga waktu tmn2 alif tampil, dekorasi & tata cahaya dipanggung itu terlalu megah dan mewah bila dibandingan dgn kondisi setting tmpat dan waktu.
musiknya bisa buat ngebawa penonton melayangkan pikirannya ke sebuah desa di minang, atau hanyut dalam emosi aktornya. pas.

actors & acting
selain aktor2 lama & profesional, film ini sengaja memperkenalkan pemain2 yg benar2 baru, terutama utk pemeran "sahibul menara". tapi jangan salah, akting mereka cukup baik koq. misalnya peran Alif yg penuh totalitas, ketika harus senang, marah, menangis. atau peran Atang yg konyol dan sering membuat penonton tertawa, atau pemeran Baso yang 'kecil2 cabe rawit', insipratif, dan menyentuh... thumbs up!

Diluar plus-minusnya film ini, scara pribadi saya nilai film ini "worth it"
apalagi dengan 'suntikan' semangat "man jadda wa jada".
 
Copyright 2009 Thousand-Expressions Box. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator